Suku Asmat – Sejarah , Kebudayaan, Kepercayaan dan Kehidupannya

Posted on

Suku Asmat adalah sebuah suku di wilayah Papua. Kita sudah mengenal suku yang tinggal di Indonesia bagian timur. Sebagai suku paling populer di Papua, tentu menarik dan berbeda dengan suku-suku lain di Indonesia.

Suku Asmat terkenal dengan ukiran kayunya yang unik. Suku Asmat terbagi menjadi mereka yang tinggal di pantai dan mereka yang tinggal di daratan.

Pada pembahasan kali ini, kami akan menjelaskan tentang sejarah suku Asmat secara detail dan jelas. Untuk review lengkapnya, yuk… baca terus.

Suku Asmat Adalah?

Suku Asmat - Sejarah , Kebudayaan, Kepercayaan dan Kehidupannya

Suku Asmat merupakan sebuah nama suku yang sangat terbesar dan paling terkenal di antara banyak suku di Papua, yakni tepat di wilayah Indonesia.

Salah satu hal yang telah membuat suku Asmat terkenal ialah dalam suatu hasil dari ukiran kayu tradisional, yang ditandai dengan fitur khusus. Beberapa motif atau ornamen yang sering digunakan dan yang menjadi tema utama proses ukiran patung suku Asmat mengambil tema leluhur sukunya, yang biasa dikenal dengan mbis.

Akan tetapi tidak berhenti pada seringnya menemukan motif atau ornamen lain yang menyerupai perahu atau cacing yang mereka yakini sebagai simbol perahu hantu yang membawa leluhur mereka ke alam maut. Bagi Asmat setempat, ukiran kayu lebih yakni merupakan manifestasi dari cara mereka melakukan ritual untuk mengenang roh leluhur mereka.

Kebudayaan Dan Kepercayaan Dalam Suku Asmat

Para ahli telah menyebut dalam suatu budaya Asmat untuk budaya kayu. Ini tidak lebih dari itu orang Asmat benar-benar menggunakan hutan yang tumbuh di sekitar mereka untuk bertahan hidup di alam yang keras. Ini juga mendorongnya untuk mewujudkan pemikirannya tentang kehidupan religius dalam bentuk ukiran kayu 2 atau dalam 3 dimensi.

Baca Juga :  Pengertian Budaya Organisasi - Teori, Jenis atau Tipe, serta Karakteristik

Sehingga dalam suatu ukiran kayu Asmat mengandung lambang pemikiran mereka tentang kepercayaan mereka, yang didasarkan pada pemujaan arwah, baik arwah leluhur maupun arwah alam dan makhluk lain, yang diyakini mempengaruhi dalam suatu kehidupan manusia.

Mereka yakni telah melihat kayu sebagai Asmat, dan Asmat ialah pohon, karena pohon mirip dengan manusia, akar pohon seperti kaki untuk manusia, batang pohon seperti tubuh manusia, cabang dan ranting seperti tangan dan jari pada manusia, buah adalah buah seperti menuju People.

Tumbuhan dan berbagai hewan memiliki jiwa seperti manusia. Seekor burung yang memakan buah dari pohon seperti seseorang yang memutar kepala orang lain. Tetapi Asmat sudah dipengaruhi oleh budaya asing saat ini, beberapa dari mereka sudah akrab dengan agama Katolik. Budaya kayu yakni telah menghadapi adanya suatu perubahan.

Kehidupan Bermasyarakat Dalam Suku Asmat

Suku Asmat yakni telah membangun dalam sebuah pemukiman dan desa mereka di tepi sungai karena sungai adalah alat transportasi utama dan memudahkan mereka untuk mengenali kedatangan orang lain yang mendekati desa mereka.

Setiap desa yang telah ditandai dengan sebuah rumah yang disebut kamu, je atau yeu, yang merupakan rumah bujangan yang dihuni oleh para lelaki. Di sekelilingnya berdiri rumah-rumah keluarga Batih, tempat tinggal wanita dan anak-anak yang masih dirawat oleh ibu mereka.

Rumah ini menjadi pusat kegiatan sosial keagamaan suku Asmat, karena mereka berkumpul di sini setiap kali kegiatan sosial yang membutuhkan nasihat, serta kegiatan keagamaan di mana semua penduduk desa terlibat.

Rumah ini secara khusus dihuni dengan seorang pria dewasa dan anak lelaki yang sudah tua (dalam masa puber). Wanita hanya dapat berpartisipasi jika ada acara penting yang memungkinkan mereka untuk masuk. Pada zaman kuno, di Yeu, pria merancang dalam suatu pertahanan desa dan mengembangkan strategi pengayauan.

Baca Juga :  Pengertian Masyarakat - Unsur, Ciri-Ciri, serta Syarat-Syarat Masyarakat

Di masa lalu, pemukiman Asmat sering berpindah-pindah, terutama di hutan sagu yang menjadi milik penduduk mereka. Saat ini, desa-desa Asmat relatif padat dan wilayah mereka dibagi menjadi beberapa wilayah seperti Agats, Sawa-Erma, Atsy dan Pantai Kasuari (Pirimapun), beberapa di antaranya mendiami beberapa desa di wilayah Citak-Mitak (Senggo).

Memang, Asmat dibagi menjadi berbagai sub-kelompok etnis yang muncul dari asosiasi desa pada masa perang antara desa dan kelompok-kelompok sebelumnya. Asosiasi pribumi kadang-kadang ditandai oleh kesamaan dialek dan simbol kesatuan dalam suatu sosial oleh mitologis.

Demikian pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Sejarah Suku Asmat. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya